Buku Tabungan Perkawinan



“Buku tabungan perkawinan” diberikan oleh ibu kepadaku pada hari perkawinanku.

Pada waktu itu, saya sangka buku tabungan ini berisi banyak uang, tapi saat kubuka ternyata di dalamnya hanya berisi 1.000 dolar.

Aku menatap ibu dengan pandangan kecewa, tapi ibu malah tersenyum padaku dan berkata: “Ini adalah buku tabungan perkawinan yang secara khusus dibuatkan untuk kalian, nanti jika kalian bertemu dengan hari yang pantas diperingati, kalian boleh menabungkan sejumlah uang ke dalamnya, tunggu sampai saat kalian tua, maka di dalamnya selain ada uang, juga tersimpan kebahagiaan yang tiada batas.”

Pada waktu itu, aku tidak sependapat dengan pandangan ibu, tapi suamiku malah mengingatnya baik-baik di dalam hati.

Tidak lama setelah menikah, suamiku terlebih dahulu menabung sebanyak dua kali, masing-masing sebanyak 500 dolar, sekali karena dia mendapatkan promosi jabatan, sekali lagi karena aku keluar rumah sakit setelah menjalani operasi.

Saat itu aku menertawainya sebagai kurang kerjaan, padahal sesungguhnya hatiku merasa bahagia sekali, sebab dia menganggap kesehatanku sebagai suatu hal yang membahagiakannya.

Tak lama kemudian, aku pun hamil. Kali ini, aku menabungkan 2.000 dolar ke dalamnya.

Namun segera kemudian, kami mulai memiliki pertengkaran dan saling mengabaikan.
Kebahagiaan saat anak kami lahir hanya bertahan sejenak.
Popok yang dicuci tak habis-habisnya dan susu yang tak ada habisnya dibeli, semakin memperburuk hubungan kami.

Buku tabungan perkawinan itu sepertinya telah terlupakan dan tersimpan di sudut laci meja tanpa pernah tersentuh lagi, angka tabungan di dalamnya juga tidak pernah bertambah lagi.

Ketika kami mulai ribut untuk bercerai, ibu mengatakan: “Kalian habiskan dulu uang yang ada dalam buku tabungan kalian, baru kemudian bercerai! Walau pun jumlah uangnya tidak banyak, tapi itu adalah harta bersama dari kalian berdua.”

Dari itu, untuk pertama kalinya aku menarik uang sebanyak 1.000 dolar,

Namun ketika aku meninggalkan pusat perbelanjaan dengan menenteng beberapa potong pakaian yang telah lama kuinginkan, aku ternyata masuk kembali ke pusat perbelanjaan dan mengatakan kepada wanita penjualnya: “Maaf! Aku tidak jadi membeli pakaian ini, harap anda bisa mengembalikan uang belanjaku tadi.”

Mungkin situasinya sangat memalukan, tapi yang teringat dalam otakku hanyalah asal uang 1.000 dolar dalam buku tabungan perkawinan ini.
Suamiku adalah seorang pria pemalu, tapi dia pernah berteriak keras “I love you” di jalanan, untuk itu aku menabung 100 dolar;
Dia ingat akan hari ulang tahunku, ukuran sepatuku, passwordku dan hal yang paling kutakuti, aku menabungkan 300 dolar pada hari ulang tahunku;
Dia bersikap sopan pada wanita, juga menjaga jarak dengan wanita lain, tidak memberikan kesempatan kepada bawahan wanita yang diam-diam mencintainya, aku menabung 500 dolar untuk ini.

Wah! Ternyata di dalam 1.000 dolar ini terdapat begitu banyak akumulasi kebahagiaan, kemudian ketika aku melihat pada uang 20.000 dolar lebih di dalam buku tabungan perkawinan ini, mataku mendadak terasa sedikit basah.

Malam hari ketika pulang ke rumah, aku menyerahkan buku tabungan kepada suamiku dan berkata: “Harap segera habiskan uang tabungan ini, setelah habis, kita boleh bercerai.”

Malam berikutnya, dia menyerahkan buku tabungan kembali ke tanganku, ketika kubuka ternyata uang tabungan malah bertambah 1.000 dolar.

Dia mengatakan: “Setiap dolar di dalamnya menyimpan proses perjalanan yang pernah kita lalui, untuk pertama kalinya aku menemukan bahwa ternyata aku begitu mencintaimu, jadi aku kembali menabungkan 1.000 dolar ke dalamnya.”

Sejak itu, hubungan kami kembali mesra seperti semula.

Perkataan ibu sungguh benar, dia membuatkan sebuah rekening untuk kami atas nama cinta, semua kegembiraan, kebahagiaan dan romantisme antara kami suami istri dimasukkan ke bank.

Dengan adanya buku tabungan perkawinan yang mengakumulasikan hari demi hari dan bulan demi bulan, bahkan perkawinan yang paling miskin sekali pun, juga tidak perlu takut kehabisan dana.

Buat yang Lagi Jenuh Sama Pacar, Coba Baca Ini

Prologue

Selamat siang para pembaca ..

Pada pagi hari ini (28 Feb 14), saya tidak sengaja tersentuh ketika membaca sebuah artikel yang terdapat di Kaskus yang menjadi Hot Thread juga pada hari itu ..

Setelah membaca nya, saya berinisiatif untuk ikut membagikan artikel tersebut supaya dapat menjadi bahan perenungan dan manfaat bagi kita semua ..

Thanks buat agan kancutter yang telah mau berbagi kisah nyata nya .. Selamat membaca

----------------------------------------------------

Halo selamat siang.

Ane mau cerita tentang kisah nyata kakak kandung ane (10000% no hoax), mungkin ini bisa bermanfaat buat agan-agan semua.

Halo gan, gue Andi (nama disamarkan) 17 tahun, gue punya kakak perempuan 20 tahun bernama Siska.
Kebetulan pacar dia temen main gue dibengkel (biasa cowok), namanya Bayu.
Hubungan mereka setau gue udah berjalan cukup lama, sekitar hampir 3 tahun.

Bayu, ya, orang yang gue anggap abang ini punya sifat pendiem, gak neko-neko, tapi suka balapan
Secara garis besar, gue gak pernah denger dia play boy atau sejenisnya.
Siska, kakak gue yang paling nyebelin tapi paling gue sayang, punya sifat yang manjanya gak ketolongan, tapi walaupun gitu, dia tegas kok.

Suatu hari, Siska cerita sama gue kalo dia bosen sama Bayu.

Siska: Ndi, gue bosen sama Bayu (-_-)
Gue: Lahh? Sayang banget udah lama gitu lo 
Siska: Gak tau gue juga bingung Ndi (T.T)
Gue: Ya terserah lo sih, gue cuman menyayangkan aja. Dia baik kok, giliran lo dapet cowok yang bener malah lo giniin. 
Siska: Gue juga gak mau tapi ya gimana, orang bosen.
Gue: Ya udah terus lo mau apa? Putus? Kasian. 
Siska: Gak tau ah (T.T)

Dari percakapan itu gue liat kesananya Siska makin gak bisa diatur, sorry, dalem arti dia kan udah punya Bayu, tapi dia suka main sama temen cowoknya.
Di sini gue gak bilang kakak gue player, gak, gue tau dia.
Jadi, di sini ada pihak ke tiga yaitu temen-temennya yang sok deket-deketin kakak gue ke seorang cowok lain.

Hari itu, gue anterin dia ke rumah temennya, selama perjalanan gue ngobrol gini
Gue: kak, lo kok jadi suka main sama mereka? 
Siska: Ya emang kenapa? 
Gue: Lo gak mikirin Bayu apa??? *gue agak kesel* 
Siska: Kan gue bilang, gue lagi dititik jenuh, gue butuh suasana baru 
Gue: Ya tapi gak gini juga 

Setibanya disana, gue pulang lagi main kebengkel, jadi gue cuman anter dia aja.
Gue ketemu Bayu.
Bayu: Siska kemana Ndi? 
Gue: Lah? Gak tau? Kan main. 
Bayu: Dia gak bilang apa-apa, gue bbm sms dll pending, mati kali hp nya. Emang main kemana? 
Gue: Ke *****, nanti gue jemput lagi sih. Atau lo aja yang mau jemput? 
Bayu: Gue lagi anteng di bengkel nih hahahaha, lo aja Ndi, nanti malem gue kerumah lo

Hari semakin sore, ditambah musim ujan yang kadang suka dadakan ujannya, gue pun memutuskan jemput sekarang aja (padahal Siska minta jemput jam berapa gitu gue lupa).
Setibanya di sana gue kaget bukan kepalang, Siska lagi rangkulan sambil main PS sama cowok.
Gue mikirin gimana perasaannya Bayu kalo tau.
Tapi anehnya Siska bukannya panik atau apa ada gue, malah biasa ja.
Hhhhhhh, gue gak abis pikir sama dia. (>_<)

Beberapa hari kemudian, gue tau Siska sama Bayu lagi berantem hebat tapi gue gak tau topiknya apa.
Malemnya gue sempet ngobrol sama Siska.
Gue: Sis, kok lo gitu banget sih sekarang jadi cewek? Murahan tau gak! 
Siska: Murahan? Cuman main sama temen lo bilang murahan? 
Gue: Ya kasian kali Bayu 
Siska: Gue udah lost contact sama dia 
Gue: Lahhh? Tadi bukannya masih komunikasian? 
Siska: Iya, gue janjian sama dia, daripada kita putus, mending kita lost contact aja dulu. Kali aja jenuh gue berkurang, kali aja gue kangen sama dia. 
Gue: Berapa lama? Sehari? Hahahaha 
Siska: 2 Minggu 
Gue: Lahh emang bisa? Hahaha 
Siska: Bisa lah. Liat nih, gue udah ganti nomor sementara. 
Gue: Niat beuuuud 
Siska: Iyalah

Besoknya gue ngebengkel lagi, gue ketemu Bayu.
Gue: Bay lo lostcont sama Siska? 
Bayu: Iyeee, kakak lo yang mau tuh 
Gue: Gak enak gue jadinya 
Bayu: Kenapa? 
Gue: Gak apa apa hahaha 
Bayu: Nyeeeeh, gue sakit nih 
Gue: Sakit hati broooo? Hahaha 
Bayu: Sakit badan juga hahaha 
Gue bercanda-canda aja sama dia, anaknya emang asik gan :')

Selama proses lostcont itu, yang gue tau Siska malah semakin bebas main sama temen-temennya, entah yang cewek atau yang cowok.
Dan gue dapet kabar Bayu sakit thypus tapi belum dirawat.
Gue gak ambil serius, soalnya ini anak emang sering sakit thypus.
Tapi gue kabarin ke Siska dan responnya bangkeeee cuek gitulah. #grrrrr

Skip aja ya :')
Bayu meninggal gan.
Dan ternyata kronologi meninggalnya begini:
Bayu main futsal --> Bayu pingsan --> Dilariin ke RS --> Koma --> Pembuluh darahnya ada yang pecah --> meningggal. :(
Menurut yang sempet ada di samping dia,
Bayu kejang-kejang terus gan sampe matanya aja diplester biar bisa merem.
Dan selang dimana-mana.
Gue gak ngerti itu sakit apa. (T_T)

Dadakan banget gan meninggalnya, gue juga baru tau main futsal bisa kaya gitu
Peringatan juga nih buat agan-agan yang suka main futsal harus tau kondisi badan.

Kakak gue pas tau gitu entah kenapa pingsan
Terpukul banget kali ya gan
Mungkin dia juga nyesel banget gak sempet tau Bayu sakit, Bayu dirawat, Bayu sekarat

Apalagi pas jenazah Bayu udah di rumah dan ditidurin, kakak gue bener-bener gak mau pindah disamping Bayu gan
Klimaksnya saat muka Bayu mau ditutupin kapas, saat itu keluarga satau sanak saudara dikasih kesempatan buat "ngomong" dan lihat terakhir, kakak gue bener-bener histeris (padahal mamah nya Bayu aja gue liat lebih ikhlas )
Kalo ada yang tanya gimana kondisi kakak gue pas makaminnya, agan bayangin aja sendiri ya

Beberapa hari setelah meninggal Bayu juga dia jadi bengong-bengong gitu
Malah semua yang pernah dikasih Bayu kaya boneka kalung gelang couple dll dipake, dipeluk terus

----------------------------------------------------

Buat ente-ente yang baca, kalo bosen emang jangan sampe lost contact deh, dari pada nyesel kaya kakak gue 

Ini baru pacaran, ketemu tiap hari juga engga. 
Emang sih udah bertahun-tahun. 
Kalo bosen sekarang, gimana nanti pas udah nikah? 
Ketemu tiap hari, tidur bareng, makan bareng, mandi bareng. 
Bisa tahan ga bosen? 
Mikir gitu jadi bosen nya ilang. 

Saran aja nih. 
Pinter-pinter bikin grafik dalam hubungan 
Naik turun lebih bagus. 
Berantem kecil-kecil kadang bisa bikin ngeluarin unek-unek yangg di pendem. 

Bosen / Jenuh itu PENGERUSAK banget gan. 
Lo bosen cuman seminggu dua minggu, 
RUSAKNYA? Bisa selama nya kaya kakak gue. 

Sorry gan, gue gak maksud nasehatin, gue cuman gak mau ente-ente sia-siain orang yang sayang ente, umur gak ada yang tau gan :)

----------------------------------------------------

ohia ini lagu yang suka didenger kakak ane akhir-akhir ini gan
ane udah ingetin, ikhlasin lah, tapi dia malah bilang "gue ngerasa deket dia tau tiap denger ini lagu"

Kerispatih - Mengenangmu

Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputarKan kutunggu dirimu …

Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi …

coba deh agan abis baca thread ini langsung dengerin lagu ini, kerasa banget jadi kakak gue gimana 

----------------------------------------------------

Kalo ini DP Bbm kakak gue gan, sampe sekarang belum diganti-ganti, padahal paket idup

"Mungkin lebih baik kalo gue tinggal di hati lo aja, dimana dunia gak bisa melihat gue. Kalo gue mati gak akan ada noda di cinta lo."

update 26 Februari 2014 (2 hari setelah thread ini gue buat), profil bbm kakak gue yang gue foto bb nya, dia lagi tidur


----------------------------------------------------

Banyak yang tanya kejadiannya kapan, baru Januari 2014 kemarin gan.

Banyak yang tanya juga kondisi kakak ane gimana, alhamdulillah udah bisa ceria lagi gan walaupun H+10an pemakaman Bayu, kakak ane kesana terus setiap hari.
Doain aja kakak ane baik-baik aja dan doain Bayu tenang disisi-Nya ya gan

----------------------------------------------------

INI TAMPARAN JUGA BUAT KAUM HAWA YANG SUKA SEPELEIN KAUM ADAM 

buat agan yang ceweknya udah seenak jidat nya cuekin agan kaya gini, share link thread ini aja gan ke dia, semoga aja sadar sharenya kaya gini gan 


---------------------------------------------------- 

Kata-kata bijak dari novel nya bang tere :

"Tahukah kau, untuk membuat
seseorang menyadari apa yang
dirasakannya, justru cara terbaik
melalui hal-hal menyakitkan.
Misalnya kau pergi. Saat kau pergi,
seseorang baru akan merasa
kehilangan, dan dia mulai bisa
menjelaskan apa yang sesungguhnya
dia rasakan."

Quote dari film A Thousand Words:

I guess you never know if the last time you see someone is going to be the last time you ever see someone.

----------------------------------------------------

Mungkin itu aja gan, thanks udah kasih kesempatan buat gue bikin thread ini.
Gue udah berusaha buat cerita ini dengan sesederhana mungkin biar gak lebay kayak sinetron, tapi apa daya gan, emang begitu kenyataannya
Sekali lagi, jangan pernah sia-siain orang yang lo sayang dan sayang lo deh

----------------------------------------------------


Thanks for Share yaa Gan ~ Semoga bisa bermanfaat buat yang lainnya ~

Kisah Mendaka Si Orang Kaya

Suatu ketika, dalam perjalanan Beliau ke wilayah Anga dan Uttara, Sang Buddha mengetahui dari penglihatan luar biasa Beliau bahwa telah tiba saatnya bagi Mendaka, istrinya, putranya, menantunya, cucu perempuannya, dan pelayannya untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Mengingat kesempatan enam orang tersebut untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti, Sang Buddha pergi ke kota Baddiya.

Mendaka adalah seorang pria yang teramat kaya raya. Menurut kabar, ia telah menemukan sejumlah besar patung kambing dari emas dalam ukuran yang sebenarnya di halaman belakang rumahnya. Karena alasan tersebut, ia dikenal sebagai Mendaka (kambing) si orang kaya.

Menurut kabar pula, pada masa Buddha Vipassi, ia telah berdana berupa sebuah vihara untuk Buddha Vipassi dan sebuah gedung pertemuan lengkap dengan podium untuk berkhotbah. Selama pembangunan gedung tersebut, ia memberikan persembahan dana makanan kepada Buddha Vipassi dan para bhikkhu selama empat bulan.

Kemudian, pada masa lain dalam kehidupannya yang lampau, ketika ia menjadi seorang kaya di Baranasi, terjadi bencana kelaparan di seluruh daerah tersebut. Suatu hari, mereka memasak makanan yang hanya cukup untuk anggota keluarga saja.

Saat itu, lewatlah seorang Pacceka Buddha yang sedang berpindapatta. Ia mempersembahkan seluruh makanan tersebut. Tetapi karena kesetiaan dan kemurahan hatinya yang luhur, tempat nasinya kemudian ditemukan terisi lagi secara ajaib, demikian pula lumbungnya.

Mendaka dan keluarganya, mendengar bahwa Sang Buddha datang ke Baddiya, pergi untuk memberi hormat kepada Beliau. Setelah mendengarkan khotbah yang diberikan Sang Buddha, istrinya Candapaduma, anaknya Danancaya, menantunya Sumanadevi, cucu perempuannya Visakha, dan pelayannya Punna mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Mendaka menceritakan kepada Sang Buddha bahwa dalam perjalanannya tadi beberapa pertapa telah mengatakan hal-hal yang buruk tentang Sang Buddha dan mencegahnya untuk datang mengunjungi Beliau.

Sang Buddha kemudian berkata, “Murid-Ku, sudah biasa bahwa orang tidak melihat kesalahannya sendiri, dan membesar-besarkan kesalahan dan keburukan orang lain.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 252 berikut :

Amat mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain,
tetapi sangat sulit untuk melihat
kesalahan-kesalahan sendiri.
Seseorang dapat menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain
seperti menampi dedak,
tetapi ia menyembunyikan kesalahan-kesalahannya sendiri
seperti penjudi licik
menyembunyikan dadu yang berangka buruk.

Kisah Lima Murid Awam

Pada suatu ketika, lima murid awam hadir pada saat Sang Buddha sedang berkhotbah Dhamma di Vihara Jetavana. Seorang dari mereka duduk tertidur, orang kedua menggambar garis-garis di tanah dengan jarinya, orang ketiga mencoba mengguncang sebatang pohon, dan orang keempat memandangi langit. Orang kelima merupakan satu-satunya murid yang mendengarkan Sang Buddha dengan hormat dan penuh perhatian.

Ananda Thera, yang berada di dekat Sang Buddha sambil mengipasi Beliau melihat tingkah laku lima murid awam yang berbeda tersebut.

Ia berkata kepada Sang Buddha, “Bhante! Sementara Bhante menguraikan Dhamma seperti tetesan air hujan jatuh dari langit, hanya satu dari lima orang itu yang mendengarkan dengan penuh perhatian.”

Kemudian Ananda Thera menyampaikan tingkah laku yang berbeda dari empat orang itu terhadap Sang Buddha dan bertanya mengapa mereka bertingkah laku demikian.

Sang Buddha menjelaskan kepada Ananda Thera, “Ananda, orang-orang ini tidak dapat menyingkirkan kebiasaan lama mereka. Dalam kehidupan mereka yang lampau, orang pertama adalah seekor ular. Seekor ular biasa melingkarkan dirinya dan tertidur, demikian pula, orang ini tertidur ketika mendengarkan Dhamma.

Orang yang mengais tanah dengan jari tangannya adalah seekor cacing tanah, yang mengguncang pohon adalah seekor kera, yang menatap langit adalah seorang ahli ilmu bintang, dan orang yang mendengarkan Dhamma dengan penuh perhatian adalah seorang peramal terpelajar.

Dalam kaitan ini, Ananda, engkau harus ingat bahwa seseorang haruslah penuh perhatian untuk dapat memahami Dhamma dan bahwa banyak sekali orang yang tidak dapat menjalankan hal ini.”

Kemudian Ananda Thera bertanya kepada Sang Buddha, “Bhante! hal-hal apa yang menghalangi orang untuk dapat mengerti Dhamma?”

Sang Buddha menjawab, “Ananda, nafsu (raga), kebencian (dosa), dan ketidaktahuan (moha) adalah tiga hal yang menghalangi orang mengerti Dhamma. Nafsu membakar seseorang; tidak ada api sepanas nafsu. Dunia mungkin saja terbakar ketika tujuh matahari muncul di angkasa, tetapi itu jarang sekali terjadi. Namun nafsu selalu membakar tanpa henti.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 251 berikut :

Tiada api yang menyamai nafsu,
tiada cengkeraman yang dapat menyamai kebencian,
tiada jaring yang dapat menyamai ketidaktahuan,
dan tiada arus yang sederas nafsu keinginan.

Murid yang mendengarkan dengan penuh perhatian mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Tissa

Tissa, seorang bhikkhu muda, mempunyai kebiasaan yang sangat buruk yaitu melecehkan kemurahan hati dan perbuatan baik orang lain. Ia bahkan mencela dana yang diberikan oleh Anathapindika dan Visakha. Di samping itu, ia membual bahwa teman-temannya sangatlah kaya bagaikan sumur, tempat setiap orang bisa mendapatkan air.

Mendengar ia membual demikian, para bhikkhu yang lain tidak percaya; maka mereka memutuskan untuk menemukan kebenarannya. Beberapa bhikkhu muda pergi ke desa asal Tissa dan mencari keterangan tentang hal ini. Mereka menemukan kenyataan bahwa semua teman-teman Tissa miskin, dan selama ini Tissa hanya membual saja.

Ketika Sang Buddha mendengar hal ini, Beliau berkata, “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang tidak senang orang lain menerima pemberian dan persembahan, ia tidak akan pernah mencapai ‘Jalan dan Hasil Kesucian’ (magga dan phala).”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 249 dan 250 berikut ini :

Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan
dan menurut kesenangan hati mereka.
Karena itu barang siapa yang merasa iri
atas makanan dan minuman orang lain,
ia tidak akan memperoleh kedamaian batin,
baik siang ataupun malam.

Orang yang telah memotong perasaan iri hati ini seluruhnya,
mencabut akar-akarnya serta menghancurkannya,
akan memperoleh kedamaian batin,
baik siang ataupun malam.

Kisah Lima Murid Awam

Suatu ketika, lima murid awam melaksanakan hari puasa (Uposatha) di Vihara Jetavana. Sebagian besar dari mereka hanya menjalankan satu atau dua peraturan moral (sila) saja dari ‘Lima Peraturan Moral’ (pancasila). Masing-masing dari mereka yang menjalankan salah satu sila tertentu tersebut menyatakan bahwa sila yang dijalankannya merupakan sila yang paling sulit dan kemudian terjadi perdebatan. Akhirnya, mereka menghadap Sang Buddha dengan membawa masalah ini.

Kepada mereka, Sang Buddha berkata, “Engkau tidak boleh menganggap suatu sila itu mudah atau tidak penting. Setiap sila harus dijalankan dengan tetap. Jangan menganggap ringan sila yang manapun; tidak ada sila yang mudah dijalankan.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 246, 247 dan 248 berikut ini :

Barang siapa membunuh makhluk hidup,
suka berbicara tidak benar,
mengambil apa yang tidak diberikan,
merusak kesetiaan istri orang lain,

Atau menyerah pada minuman yang memabukkan;
maka di dunia ini orang seperti itu
bagaikan menggali kubur
bagi dirinya sendiri.

Orang baik, ketahuilah bahwa sesungguhnya
tidak mudah mengendalikan hal-hal yang jahat.
Jangan biarkan keserakahan dan kejahatan
menyeretmu ke dalam penderitaan yang tak berkesudahan.

Lima murid awam mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Culasari

Suatu hari, Culasari berjalan pulang dari mengunjungi seorang pasien. Dalam perjalanan, ia berjumpa Sariputta Thera dan bercerita, bagaimana ia merawat seorang pasien serta mendapatkan makanan enak untuk pelayanannya. Ia juga meminta Sariputta Thera untuk menerima darinya sebagian dari makanan tersebut. Sariputta Thera tidak mengatakan apapun kepadanya melainkan terus melanjutkan perjalanannya. Sariputta Thera menolak menerima makanan dari bhikkhu itu karena bhikkhu tersebut telah melanggar peraturan yang melarang para bhikkhu membuka praktek pengobatan.

Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau berkata kepada mereka, “Para bhikkhu! Seorang bhikkhu yang tidak tahu malu itu buruk dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ia sombong seperti seekor gagak, ia menghidupi diri dengan cara yang melanggar peraturan dan hidup dalam kenikmatan. Di sisi lain, kehidupan bagi seorang bhikkhu yang memiliki malu tidaklah mudah.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 244 dan 245 berikut ini :

Hidup ini mudah bagi orang yang tidak tahu malu,
yang suka menonjolkan diri seperti seekor burung gagak,
suka menfitnah, tidak tahu sopan santun, pongah,
dan menjalankan hidup kotor.

Hidup ini sukar bagi orang yang tahu malu,
yang senantiasa mengejar kesucian,
yang bebas dari kemelekatan, rendah hati,
menjalankan hidup bersih dan penuh perhatian.

Banyak orang pada saat itu mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.

Kisah Seorang Pria yang Istrinya Melakukan Penyelewengan

Suatu ketika, ada seorang istri yang menyeleweng. Suaminya begitu malu atas kelakuan istrinya sehingga ia tidak berani menemui orang lain; ia juga menghindari Sang Buddha. Setelah beberapa waktu, ia pergi menjumpai Sang Buddha dan Beliau bertanya mengapa laki-laki itu tidak kelihatan selama ini dan iapun menjelaskan semuanya.

Setelah mendengarkan alasan ketidakhadiran laki-laki itu, Sang Buddha berkata, “Murid-Ku, wanita itu seperti sebuah sungai, atau jalan, atau toko minuman, atau rumah peristirahatan, atau pot air, yang berdiri di pinggir jalan, mereka berhubungan (bergaul) dengan semua jenis orang. Tentunya hubungan intim yang salah merupakan penyebab kehancuran seorang wanita.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 242 dan 243 berikut ini :

Kelakuan buruk adalah noda bagi seorang wanita,
kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan.
Sesungguhnya, segala bentuk kejahatan merupakan noda,
baik dalam dunia ini maupun dalam dunia selanjutnya.

Yang lebih buruk dari semua noda adalah kebodohan.
Kebodohan merupakan noda paling buruk.
O, para bhikkhu, singkirkanlah noda ini
dan hiduplah tanpa noda.

Banyak orang pada saat itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.

Kisah Laludayi

Di Savatti, banyak orang memberikan pujian setelah mendengar khotbah-khotbah dari dua Murid Utama, Sariputta Thera dan Maha Moggallana Thera.

Suatu ketika, Laludayi, setelah mendengar pujian mereka. Ia berkata kepada orang-orang tersebut bahwa mereka akan mengatakan hal yang sama tentang dirinya setelah mendengar khotbah-khotbahnya.

Mendengar hal itu, Laludayi diminta untuk menyampaikan suatu khotbah. Ia naik ke panggung khotbah tetapi ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Maka ia meminta para pendengar untuk mempersilahkan bhikkhu yang lain terlebih dahulu dan ia akan mengambil giliran berikutnya. Dengan cara yang sama, ia menunda sampai tiga kali.

Para pendengar kehilangan kesabaran dan berteriak, “Engkau orang bodoh! Ketika kami memuji kedua Murid Utama engkau membual bahwa engkau bisa berkhotbah seperti mereka. Mengapa engkau tidak berkhotbah sekarang?”

Laludayi melarikan diri dan kerumunan orang tersebut mengejarnya. Karena sangat takut dan tidak memperhatikan kemana ia melangkah, Laludayi terjatuh ke dalam sebuah lobang kotoran.

Ketika Sang Buddha mendengar kejadian tersebut, Beliau berkata, “Laludayi sangat sedikit mempelajari Dhamma; dia tidak mengulang-ulang pengetahuan Dhamma secara teratur; dia tidak mengingat apapun. Apapun yang telah sedikit ia pelajari menjadi berkarat karena tidak diulang.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 241 berikut :

Tidak membaca ulang adalah noda bagi mantra,
tidak berusaha adalah noda bagi kehidupan berumah tangga.
Kemalasan adalah noda bagi kecantikan,
dan kelengahan adalah noda bagi seorang penjaga.

Kisah Tissa Thera

Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatti. Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia.

Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah. Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain.

Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, “Mereka sedang merusak jubahku!”

Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau. Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan para bhikkhu, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari. Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu.

Kemudian Sang Buddha ditanya oleh para bhikkhu, mengapa Beliau menyuruh mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera.

Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Murid-murid-Ku, pikiran Tissa melekat pada seperangkat jubah itu pada saat dia meninggal dunia, dan karenanya ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut. Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa, si kutu akan merasa sangat membencimu dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya). Tetapi sekarang Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan sebab itu, Aku memperbolehkan engkau mengambil jubah tersebut."

“Sebenarnya, para bhikkhu, kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu pula kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (Niraya). Seorang bhikkhu sebaiknya tidak terlalu menuruti kehendak atau melekat dalam pemakaian empat kebutuhan pokok.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 240 berikut :

Bagaikan karat yang timbul dari besi,
bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri,
begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk
akan menjerumuskan pelakunya
ke alam kehidupan yang menyedihkan.

Kisah Seorang Brahmana

Suatu saat, seorang brahmana menyaksikan sekelompok bhikkhu sedang membenahi jubah, ketika mereka mempersiapkan diri memasuki kota untuk menerima dana makanan. Sementara menyaksikan, ia melihat bahwa jubah beberapa bhikkhu tersebut menyentuh tanah dan menjadi basah oleh embun yang terdapat di rerumputan. Maka ia membersihkan bidang tanah itu.

Hari berikutnya, ia melihat bahwa jubah para bhikkhu menyentuh tanah lumpur, jubah tersebut menjadi kotor. Maka ia menutupi tanah tersebut dengan pasir. Kemudian pula, ia memperhatikan bahwa para bhikkhu akan berkeringat saat matahari bersinar dan menjadi basah saat hujan turun. Akhirnya, ia membangun sebuah rumah peristirahatan untuk para bhikkhu di tempat mereka biasa berkumpul sebelum memasuki kota untuk menerima dana makanan.

Ketika bangunan tersebut telah selesai, ia mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk menerima dana makanan. Brahmana tersebut menjelaskan kepada Sang Buddha bagaimana ia telah melaksanakan perbuatan baik tersebut selangkah demi selangkah.

Kepadanya Sang Buddha berkata, “O Brahmana! Para bijaksana melaksanakan perbuatan baik mereka sedikit demi sedikit, dan secara bertahap serta terus menerus mereka menanggalkan noda-noda kekotoran batin,”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 239 berikut :

Dengan latihan bertahap,
sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu
hendaklah orang bijaksana
membersihkan noda-noda yang ada dalam dirinya,
bagaikan seorang pandai perak
membersihkan perak yang berkarat.

Brahmana itu mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

Kisah Putra Seorang Penjagal

Suatu ketika di Savatthi, ada seorang pria yang menjadi penjagal ternak selama dua puluh lima tahun. Selama itu ia menyembelih ternak dan menjual dagingnya, dan setiap hari ia makan nasi dengan kari daging. Suatu hari ia memberikan sedikit daging kepada istrinya agar dimasak untuk keluarga mereka, kemudian ia pergi mandi ke tepi sungai.

Saat penjagal itu pergi, seorang teman membujuk istrinya untuk menjual sekerat daging tadi kepadanya. Akibatnya tidak ada kari daging untuk si penjagal pada hari itu. Karena ia tidak pernah makan tanpa kari daging, maka si penjagal bergegas pergi ke belakang rumah, dimana terdapat seekor sapi jantan. Ia memotong lidah sapi jantan tersebut dan memanggangnya di atas api. Ketika makan si penjagal menggigit lidah sapi jantan tersebut, tetapi bersamaan dengan itu lidahnya sendiri tergigit putus dan jatuh ke atas piring nasi. Jadi sapi jantan dan si penjagal mengalami penderitaan yang sama, sama-sama terpotong lidahnya.

Si penjagal mengalami kesakitan dan penderitaan yang teramat sangat, dan ia merangkak ke sana ke mari, dengan banyak darah bercucuran dari mulutnya. Kemudian penjagal tersebut meninggal dan terlahir kembali di alam neraka Avici (Niraya Avici).

Istri si penjagal merasa sangat gelisah dan ia menginginkan putranya pindah ke tempat tinggal yang lain, agar kemalangan tidak menimpa dirinya pula. Maka ia mengirimkan putranya ke Taxila. Di Taxila, putra si penjagal mempelajari seni dari seorang pandai emas. Kemudian, ia menikahi putri gurunya dan mempunyai beberapa orang anak. Ketika anak-anak mereka sudah dewasa, ia kembali ke Savatthi.

Anak-anaknya menganut ajaran Sang Buddha dan telah meningkat keyakinannya. Mereka mengkhawatirkan ayah mereka, yang telah menjadi tua tanpa pernah memikirkan Dhamma maupun kehidupannya yang akan datang. Maka pada suatu hari, mereka mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu ke rumah mereka untuk menerima dana makanan.

Setelah bersantap, mereka berkata kepada Sang Buddha, “Bhante, kami melakukan persembahan kepada-Mu hari ini atas nama ayah kami. Berikanlah khotbah secara khusus padanya.”

Sang Buddha berkata, “Murid-Ku! Engkau telah menjadi tua, tapi engkau belum membuat persiapan kebajikan untuk perjalananmu pada kelahiran berikutnya, sekarang engkau sebaiknya mencari penolong bagi dirimu sendiri.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 235,236,237 dan 238 berikut ini :

Sekarang ini engkau bagaikan daun mengering layu.
Para utusan raja kematian (Yama) telah menantimu.
Engkau telah berdiri di ambang pintu keberangkatan,
namun tidak kaumiliki bekal untuk perjalanan nanti.

Buatlah pulau bagi dirimu sendiri.
Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana.
Setelah membersihkan noda-noda
dan bebas dari nafsu keinginan,
maka engkau akan mencapai alam kedamaian para Ariya.

Sekarang kehidupanmu telah mendekati akhir,
dan engkau telah mulai berjalan ke hadapan raja kematian (Yama).
Tidak ada tempat bagimu berhenti di perjalanan,
sedangkan engkau belum memiliki bekal untuk perjalananmu.

Buatlah pulau bagi dirimu sendiri.
Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana.
Setelah membersihkan noda-noda
dan bebas dari nafsu keinginan,
maka kelahiran dan kematian
tidak akan datang lagi padamu.


Ayah pemberi dana makanan (yaitu putra si penjagal) mencapai tingkat kesucian anagami setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

Kisah Enam Bhikkhu

Enam bhikkhu dengan mengenakan sandal kayu, serta masing-masing memegang tongkat pada kedua tangannya, berjalan mondar-mandir pada sebuah batu yang besar, sehingga menimbulkan suara keras. Sang Buddha mendengar suara ribut itu dan bertanya kepada Ananda Thera, apa yang terjadi. Ananda Thera menjelaskan perihal perilaku enam bhikkhu tersebut. Kemudian Sang Buddha melarang para bhikkhu untuk menggunakan sandal kayu. Selanjutnya Beliau menganjurkan para bhikkhu agar mengendalikan diri mereka; baik dalam ucapan maupun perbuatannya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 231, 232, 233, dan 234 berikut ini :

Hendaklah orang selalu menjaga rangsangan jasmani,
hendaklah ia selalu mengendalikan jasmaninya.
Setelah menghentikan perbuatan-perbuatan jahat melalui jasmani,
hendaklah ia giat melakukan
perbuatan-perbuatan baik melalui jasmani.

Hendaklah orang selalu menjaga rangsangan ucapan,
hendaklah ia mengendalikan ucapannya.
Setelah menghentikan perbuatan-perbuatan jahat melalui ucapan,
hendaklah ia giat melakukan
perbuatan-perbuatan baik melalui ucapan.

Hendaklah orang selalu menjaga rangsangan pikiran,
hendaklah ia mengendalikan pikirannya.
Setelah menghentikan perbuatan-perbuatan jahat melalui pikiran,
hendaklah ia giat melakukan
perbuatan-perbuatan baik melalui pikiran.

Para bijaksana terkendali perbuatan, ucapan, dan pikirannya.
Sesungguhnya mereka itu benar-benar telah dapat menguasai diri.

Komik Gempa Bumi Dari China

Haii , semua pasti sudah tahu tentang bencana gempa bumi yang pernah melanda di provinsi Sichuan, China pada 12 Mei 2008 lalu kan ?

Nah, post kali ini ingin membagikan kembali komik lama yang berasal dari China untuk mengenang korban2 gempa tersebut ..

----------------------------------------------------
PROLOGUE
Senin (12/05) gempa bumi guncang propinsi terpadat Cina, Sichuan. Pusat gempa terletak di barat laut Chengdu. Kerugian terbesar diderita daerah Beichuan. Gempa itu adalah yang terbesar di Cina dalam 30 tahun terakhir.  Seorang saksi mata di kota Chengdu, ibukota propinsi Sichuan menceritakan, ia merasakan getaran tanah, saat gempa bumi mulai. Mobilnya juga ikut bergetar. Semua orang keluar dari mobil, dan merasa bagaimana tanah mulai bergoyang. Orang berlarian ke jalan. "Jaringan telfon seluler putus. Telefon biasa masih berfungsi. Gempa bumi berlangsung kira-kira dua menit. Banyak orang mengatakan, mereka belum pernah merasakan gempa sebesar itu.“ Demikian penuturan saksi mata.  Gedung Sekolah Roboh   Semakin jauh tim penolong memasuki propinsi tersebut, semakin besar jumlah korban yang ditemukan. Kantor berita pemerintah, Xinhua memperkirakan di satu daerah saja jumlah korban tewas sampai 5.000 orang dan yang luka-luka 10.000.  Hampir 900 murid sekolah tertimbun reruntuhan sekolahnya. Menurut Xinhua ini terjadi di kota kecil Dujiangyan, sekitar 100 km dari pusat gempa. Sampai berita diturunkan, dilaporkan lima sekolah lainnya juga roboh. Sehingga jumlah seluruhnya sekolah yang runtuh di Sichuan dan Chongqing delapan buah.  BEIJING - Sekira 900 pelajar terkubur akibat gempa bumi mengguncang China, merubuhkan bangunan dan menyebabkan puluhan orang tewas.   Surat kabar pemerintah, Xinhua melaporkan siswa yang terjebak tersebut berlokasi di kota Dujiangyan yang dekat dengan episenter gempa di Barat Daya provinsi Sichuan. Namun, tidak disebutkan apakah siswa yang terkubur masih hidup atau tidak.  Mereka terkubur dalam reruntuhan bangunan sekolah berlantai tiga. Saat ini tim penyelamat tengah berupaya untuk menyelamatkan siswa yang terjebak tersebut, namun sampai berita ini diturunkan, kondisi mereka belum diketahui.   Lebih dari 107 orang dikabarkan tewas akibat gempa berkekuatan 7,8 Skala Richter yang terjadi 57 mil (92 kilometer) barat laut Chengdu, ibu kota provinsi Sinchuan. Getaran gempa bahkan sampai terasa hingga Beijing, Taiwan dan Bangkok.
 ----------------------------------------------------  Ada 12 judul dari komik singkat yang diangkat dari kisah ini .. Selamat menyaksikan ..  ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~   1. The Song of Miracle 


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
2. The Boy Who Lived


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  3. Take My Wings

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
4. I Must Be Strong



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
5. My Father is a Hero





~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  6. Coke Boy



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  7. The Last Lesson


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  8. Just One More

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  9. A Trip To Rusia

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  10. Getting a Refund 
 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  11. Panda Panda 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 12. Be With You

--------------------------------------------------------------------
SUMBER & PESAN DARI PEMBUAT KOMIK NYA
http://earthquakestrips.blogspot.com/

From Coco Wang : (dlm bahasa Inggris ya, supaya tidak mengubah pesan asli nya)  Hello, everyone.  Thank you very much for reading my earthquake comics. I am very happy to receive your comments and feedback.  I would love to share more of my comic artworks with you. This series of comics is from the comic book Coco Goes To Study In England that I published in Hong Kong in 2007.  I went to study in the UK when I was 15. It was a tremendous culture-shock experience for me to take my A levels in a girls' boarding school in North Yorkshire, where I sang hymns every morning and fed horses; I got lost at the backstage of the Royal Opera House in London and ended up sketching dancers of Kirov Ballet; I made a plaster bust of the Phantom Of The Opera and was invited to a free show by the singer who played the phantom; in a very unexpected way I did the first nude drawing of my life by walking into the wrong classroom; I was extremely confused with the concept of contemporary art when I was told to appreciate Duchamp's toilet seat...  For 8 years in the UK, I have become a blend of the East and the West. The difference between our cultures does not always represent 'gaps', there are more pleasures and opportunities to appreciate what is new to us.   From now on I will regularly update the Coco Wang Comics Blog which is dedicated to my Coco Goes To Study In England comic stories.  Thank you