Kisah Teman Sariputta Thera

Pada kesempatan lain lagi, Sariputta Thera bertanya kepada temannya, seorang brahmana, apakah ia telah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Temannya menjawab bahwa ia telah melakukan persembahan pengorbanan dalam skala besar. Ia berharap untuk dapat terlahir kembali di alam brahma dalam kehidupannya yang akan datang.

Sariputta Thera menjelaskan kepadanya bahwa gurunya telah memberikan harapan yang salah dan mereka sendiri pun tidak mengetahui jalan menuju alam brahma.

Kemudian Sariputta Thera membawa temannya menghadap Sang Buddha, yang menunjukkannya jalan menuju ke alam brahma. Kepada teman Sariputta Thera, Sang Buddha berkata, “Brahmana, memberikan penghormatan kepada para orang suci (ariya) untuk sesaat saja akan lebih baik daripada melakukan persembahan pengorbanan besar dan kecil sepanjang tahun.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 108 berikut:

Dalam dunia ini, pengorbanan dan persembahan apapun yang dilakukan oleh seseorang selama seratus tahun, untuk memperoleh pahala dari perbuatannya itu,
semuanya tidak berharga seperempat bagian pun, daripada penghormatan yang diberikan kepada orang yang hidupnya lurus.

Brahmana teman Sariputta Thera mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Keponakan Sariputta Thera

Pada lain kesempatan, Sariputta Thera bertanya kepada keponakannya, seorang brahmana, apakah ia telah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Keponakannya menjawab bahwa ia telah mengorbankan seekor kambing ke dalam api pemujaan setiap bulan, dan ia berharap untuk dapat terlahir kembali di alam brahma pada kehidupannya yang akan datang.

Sariputta Thera menjelaskan kepadanya bahwa gurunya telah memberikan harapan yang salah dan mereka sendiri pun tidak mengetahui jalan menuju alam brahma.

Kemudian Sariputta Thera membawa keponakannya, seorang brahmana muda, menghadap Sang Buddha. Di sana, Sang Buddha mengajarkan Dhamma yang dapat menuntun seseorang menuju ke alam brahma dan berkata kepada sang brahmana: “Brahmana muda, memberikan penghormatan kepada orang suci untuk sesaat saja akan jauh lebih baik daripada memberikan pengorbanan untuk api pemujaan selama seratus tahun.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 107 berikut:

Biarpun selama seratus tahun seseorang menyalakan api pemujaan di hutan,
namun sesungguhnya lebih baik jika ia,
walaupun hanya sesaat saja,
menghormati orang yang telah memiliki pengendalian diri.

Keponakan Sariputta Thera mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Paman Sariputta Thera

Suatu ketika, Sariputta Thera bertanya kepada pamannya seorang brahmana apakah ia telah melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Sang brahmana menjawab bahwa ia telah membuat persembahan senilai seribu kahapana setiap bulan untuk pertapa-pertapa Nigantha, dan berharap untuk dapat terlahir kembali di alam brahma dalam kehidupannya yang akan datang.

Sariputta Thera menjelaskan kepadanya bahwa gurunya telah memberikan harapan yang salah dan mereka sendiri pun tidak mengetahui jalan menuju alam brahma. Kemudian Sariputta Thera membawa pamannya menghadap Sang Buddha, dan memohon kepada Sang Buddha untuk menjelaskan Dhamma, yang dengan pasti akan membawa seseorang ke alam brahma.

Sang Buddha berkata: “Brahmana, persembahan sesendok dana makanan kepada seorang suci akan lebih baik daripada persembahan seribu kahapana kepada orang yang tidak suci.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 106 berikut:

Biarpun bulan demi bulan seseorang mempersembahkan seribu korban selama seratus tahun, namun lebih baik jika menghormati orang yang memiliki pengendalian diri, walaupun hanya sesaat saja.

Paman Sariputta Thera mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Pramugari dan Kakek Tua



Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airlines.
Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap harinya hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 17 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.
Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Di antara penumpang, saya melihat seorang kakek dari desa merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya.
Pada saat itu saya yang berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang.
Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju, seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.



Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minum.
Ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut.
Dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakan mau minum apa, tetapi dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak.
Kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya.
Lalu kami membiarkan duduk dengan tenang.
Menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tenang di tempat duduknya.
Kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit.
Dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarang, takut merusak barang di dalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet.
Pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang sebelahnya dan menelan ludah.
Dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh dimeja dia.
Ternyata gerakan kami mengejutkannya.
Dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah..
Kami mengatakan engkau sudah haus minumlah.
Pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami.
Kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis.

Dia tidak percaya.

Katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan.
Dia tidak diladeni malah diusir.
Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil.
Karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Saat kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.
Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat 3 di Peking.
Anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal di kota akhirnya pindah kembali ke desa.
Sekali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking.
Anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama – sama ke Peking.
Tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal.
Dia bersikeras dapat pergi sendiri.
Akhirnya dengan terpaksa disetujui dengan anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut di tempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri.
Katanya jika ditaruh di tempat bagasi, ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur.
Akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati – hati dia meletakkan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus.
Tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar.
Saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil, dan meminta saya meletakkan makanannya di kantong tersebut.
Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak.
Dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya.
Kami semua kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa, di mata seorang desa menjadi begitu berharga.
Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh di dalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut.
Tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan, tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri.
Perbuatan yang tulus tersebut benar – benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat.
Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi – tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai.
Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak.
Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tau bagaimana mengucap terima kasih kepada kalian.

Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya.
Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam – ragam penumpang saya sudah jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain – lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami.
Kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan.
Hanya menyajikan minuman dan makanan.

Tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya.
Perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.

---------------------------------------------------------
Janganlah kita memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

Seberapa Berat Segelas Air

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya:

"Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.

"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. 
Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. 
Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. 
Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.

"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.
Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan.
Jangan bawa pulang.
Beban itu dapat diambil lagi besok.
Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa.
Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi......

 

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. 
Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

Colombus dan Telur


Christopher Colombus menemukan benua Amerika dengan tidak sengaja ketika mencari jalan dari Eropa ke Timur.
Saat itu ia yakin dapat menemukan jalur menuju Asia timur dengan cara berlayar ke arah barat melintasi Samudra Atlantik.
Namun semua expedisinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit oleh karenanya ia meminta ratu Isabella I untuk mensponsori perjalannya.
Ia berangkat dari Spanyol 3 Agustus 1492, sebuah pelayaran yang sangat panjang, sehingga awak kapal merasa takut dan ingin kembali.
Namun Colombus dengan tekadnya mengatakan, Tidak !! Perjalanan mesti diteruskan, sekali layar terkembang pantang digulung.


Dan akhirnya Amerika di temukan.

Setelah penemuan yang fenomenal itu, Columbus menjadi sangat terkenal dan diagung-agungkan oleh Raja dan seluruh rakyat.
Columbus pun diangkat menjadi bangsaan kehormatan kerajaan.

Hampir semua orang memuja namanya karena penemuannya tersebut telah membawa perubahan besar dalam hal kehidupan dan kemajuan Eropa dengan perkembangan jalur penjelajahan, sehingga mempermudah penyebaran penduduk, pemukiman baru serta penyediaan sumber kekayaan mineral.

---------------------------------------------------------------------------

Kisah "Colombus dan telur" ini terjadi ketika tak lama setelah sang penjelajah menemukan benua baru, benua Amerika tersebut.

Pada suatu hari, Columbus mengadakan perjamuan makan.
Dalam perjamuan makan itu, Dia menceritakan semua kisah yang dihadapi dalam pencarian Benua baru tersebut.
Semua tamu undangan terpukau dan mengakui kehebatan Sang Penemu Benua Baru tersebut.

Namun tidak semua orang senang rupanya, ternyata ada beberapa orang yang memang sinis dan iri terhadap hasil kerja kerasanya.
Dan pada saat para tamu undangan mengikuti acara tersebut, tersirat dan terdengar sayup sayup suara beberapa orang yang menghina sang penjelajah.

"Siapa dia ??
Dia hanya berlayar !!
Dia hanya kebetulan menemukan benua baru tersebut.
Apa hebatnya ??
Siapa saja juga bisa melakukan itu !!"

Mendengar hal tersebut, Columbus kemudian menantang para orang yang iri tersebut.

"Kalau kalian merasa hebat dan mampu, boleh lah kita lakukan sedikit tantangan.
Marilah kita bertanding untuk membuktikan siapa yang lebih baik.
Barangsiapa yang bisa membuat telur-telur rebus itu berdiri di atas meja makan ini, maka ialah orang yang terbaik.
Aku akan mengakui kekuranganku dan pendapat kalian benar tentang aku.
Serta akan kuserahkkan semua kekayaan dan gelar kehormatannku .."


Akhirnya mereka menerima tantangan dan berusaha mendirikan telur rebus tersebut di meja.

Lewat berbagai gaya dan upaya dicoba namun tidak ada yang bisa.
Setiap dicoba didirikan, telur-telur rebus itu langsung saja menggelinding jatuh.
Telur tersebut yang berbentuk hampir bulat (berbentuk elips) cukup mustahil untuk bisa berdiri di atas meja.

Sampai akhirnya mereka menyerah.

Kini tiba giliran Columbus.

Columbus memegang telur rebus itu di atas meja dengan posisi berdiri sambil dipegangi, kemudian dengan tangan yang satunya Columbus menekan ujung atas telur rebus itu ke meja sehingga ujung bawah telur menjadi remuk dan memipih (tidak lonjong lagi) sehingga telur tersebut bisa berdiri tegak di atas meja.


Melihat hal tersebut, orang-orang yang iri dengan sinis berkata :

"Ah... kalo caranya seperti itu, kami juga bisa membuat telur rebus itu berdiri"

Dengan bijak dan sambil tersenyum, Columbus menjawab

"Kalau memang bisa, kenapa tidak kalian lakukan ?"

----------------------------------------------------------------

Terkadang kita melihat hasil karya orang lain dari ujungnya saja, hanya dari hasilnya tanpa melihat perjuangan mereka mendapatkannya.
Akhirnya yang datang adalah rasa iri dan dengki, tidak suka dan cenderung meremehkan orang lain.
Padahal kalau kita mau melihat bagaimana ia memperolehnya, kita akan berperpikir dua kali untuk merendahkannya.

Iri terhadap sesuatu itu wajar, namun sebaiknya rasa iri tersebut di imbangi dengan kerja keras untuk memotifasi diri kita agar bisa sepertinya, bukan malah meremehkannya.

Christopher Colombus juga mengajarkan kepada kita akan pentingya sebuah tindakan, bukan hanya ucapan.
Mengambil istilah ngetrend kali ini TALK LESS, DO MORE !!

Cerita di atas juga hendak memberitahukan kita bahwa KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN BERASAL DARI SUATU TINDAKAN NYATA ATAS GAGASAN, DAN BERPIKIR LEBIH BESAR DARI BATASAN MAYA YANG MEMBATASI KEMAMPUAN KITA YANG SEBENARNYA.
Seperti orang-orang bilang "THINK OUTSIDE THE BOX".

Dunia Tanpa Donald Bebek


Suatu ketika pada hari sebelum Donald berUlang Tahun, Donald berpikir tentang dirinya sendiri...

Ia berpikir betapa tidak bergunanya dirinya bagi orang-orang yang dikasihinya karena ia selalu saja tertimpa sial,

ia merasa dunia ini akan lebih baik tanpa adanya dirinya... :(

Saat dia berpikir spt itu datanglah seorang peri bertanya kepadanya :

"Apakah kamu ingin melihat bagaimana Dunia tanpa adanya dirimu?"

Lalu Donald pun mengiyakannya...

Kemudian mereka pergi ke dunia dimana Donald tidak pernah dilahirkan.....

Apa yang dilihatnya sangat tidak terbayangkan, Semuanya terlihat berantakan !!

Keponakannya Kwak, Kwik dan Kwek menjadi preman yang suka mencuri....,
Paman Gober menjadi seorang gelandangan......,
Desi menjadi sangat gendut dan berantakan....
Dan lingkungan kota bebek menjadi kacau balau....

Lalu Donald bertanya kepada peri :

"Apa yang terjadi...??? 
Mengapa dunia bebek menjadi berantakan seperti ini tanpa aku ???
Aku kan hanya seekor bebek yang tak berguna dan selalu sial."

Peri berkata,

"Karena tidak adanya kamu yang bertugas menjaga keping emas keberuntungan Paman Gober, Agus angsa yang ceroboh telah menukarkannya dengan sepotong pie...."

"Kwak, Kwik, Kwek tidak ada yang membimbing dan mengawasinya hingga mereka menjadi berandalan."

"Kemudian soal Desi, karena Untung tidak punya saingan untuk memperebutkannya maka ia mempermainkan Desi, setelah didapatkannya cinta si Desi dan Desi juga sudah mencintainya maka ia meninggalkannya begitu saja."

"Ingatlah, biarpun kamu hanya seekor bebek yang selalu sial atau biasa2 saja,
kamu itu juga termasuk salah satu bagian penting dalam dunia ini... :)"

---------------------------------------------------------------------------------------------

Saudara dan temanku yg terkasih .....

Jangan pernah merasa dirimu tidak berharga, tidak dibutuhkan, tidak punya kelebihan / keahlian apapun, tidak cantik / tampan, tidak pandai, tidak ada yang istimewa dalam diri kita.....

Ingat dan yakinlah selalu....,

Sekecil apapun peran kita atau siapapun kita ini ,masing" kita tetap berharga dan dibutuhkan bagi orang2 yang kita kasihi :))

Ingatlah, Hargai semua yang ada.. Stay Positive yaahh ^o^v

Kisah Brahmana Anatthapucchaka

Suatu ketika, seorang brahmana bernama Anatthapucchaka mengunjungi Sang Buddha dan berkata, “Bhante, saya berpikir bahwa Anda hanya mengetahui praktek-praktek yang bermanfaat dan tidak mengetahui praktek-praktek yang tidak bermanfaat.”

Sang Buddha menjawab bahwa Beliau juga mengetahui praktek-praktek yang tidak bermanfaat dan merugikan. Kemudian Sang Buddha menyebutkan satu per satu enam praktek yang dapat memboroskan kekayaan, sebagai berikut:


1. Tidur sampai matahari terbit.
2. Kebiasaan bermalas-malasan.
3. Bertindak kejam.
4. Gemar minum-minum keras yang menyebabkan mabuk dan lemahnya kesadaran.
5. Berkeliaran sendiri di jalan pada waktu yang tidak tepat, dan
6. Perilaku seks yang salah.

Setelah itu, Sang Buddha bertanya kepada brahmana tersebut bagaimana ia menghidupi dirinya.

Brahmana itu menjawab bahwa ia menghidupi dirinya dengan berjudi, sebagai contoh: bermain dadu.

Selanjutnya Sang Buddha bertanya kepadanya apakah ia menang atau kalah. Ketika sang brahmana menjawab bahwa ia kadangkala menang dan kadangkala kalah, Sang Buddha berkata kepadanya, “Menang dalam permainan dadu tidak dapat diperbandingkan dengan kemenangan melawan kekotoran batin.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 104 dan 105 berikut ini:

Menaklukkan diri sendiri sesungguhnya lebih baik daripada menaklukkan makhluk lain;
orang yang telah menaklukkan dirinya sendiri selalu dapat mengendalikan diri.

Tidak ada Dewa, Mara, Gandhabba, ataupun Brahmana,
yang dapat mengubah kemenangan dari orang yang telah dapat menaklukkan dirinya sendiri.

Kisah Kundalakesi Theri

Kundalakesi adalah putri orang kaya dari Rajagaha. Ia senang dengan kehidupan menyendiri. Suatu hari ia kebetulan melihat seorang pencuri yang sedang digiring untuk dibunuh, dan ia secara tiba-tiba jatuh cinta padanya. Hal itu disampaikan kepada orang tuanya. Tentu saja orang tuanya menolak. Tetapi Kundalakesi tak mau mundur setapakpun. Akhirnya orang tuanya mengalah dan membayar sejumlah uang untuk kebebasan pencuri tersebut.

Mereka berdua segera dinikahkan. Meskipun Kundalakesi mencintai suaminya dengan sangat, suaminya tetaplah seorang pencuri, yang hanya tertarik kepada harta dan permatanya.

Suatu hari, suaminya membujuk untuk mengambil semua permatanya dan menuntun Kundalakesi pergi ke sebuah gunung. Katanya: “Adinda, aku ingin melakukan persembahan kepada makhluk halus penjaga gunung yang telah menolong hidupku ketika akan dibunuh.”

Kundalakesi menurut dan pergi mengikuti suaminya. Ketika mereka sampai di tujuan, suaminya berkata: “Sekarang kita berdua telah sampai di tujuan. Maka engkau akan kubunuh untuk mendapatkan semua permatamu itu!”

Dengan ketakutan Kundalakesi memohon: “Jangan! Aku jangan kau bunuh, Ambilah semua hartaku, tetapi selamatkanlah nyawaku!”

“Membiarkanmu hidup?” ejek suaminya. “Jangan-jangan nanti engkau malahan melaporkan bahwa permatamu itu kurampas. Tidak bisa! Kau harus kulenyapkan untuk menghilangkan saksi!”

Dalam keputusannya Kundalakesi menyadari bahwa mereka sekarang sedang berada di tepi jurang. Ia berpikir bahwa ia seharusnya berhati-hati dan cerdik. Jika ia mendorong suaminya ke jurang, mungkin merupakan satu kesempatan untuk dapat hidup lebih lama lagi.

Kemudian dengan menghiba ia berkata kepada suaminya: “Kakanda, kita berkumpul bersama-sama ini hanya tinggal beberapa saat lagi. Bagaimanapun juga, engkau adalah suamiku dan orang yang sangat kucintai. Maka, ijinkanlah aku memberikan penghormatan kepadamu untuk yang terakhir kalinya. Hanya itu saja permintaan terakhirku. Semoga kakanda mau mengabulkan permintaan terakhir isterimu ini.”

Setelah berkata seperti itu, Kundalakesi mengitari laki-laki itu dengan penuh hormat, sampai tiga kali.

Pada kali terakhir, ketika ia berada di belakang suaminya, dengan sepenuh kekuatannya ia mendorong suaminya ke jurang, dan jatuh ke tebing batu yang terjal.

Setelah kejadian itu, ia tidak berkeinginan lagi untuk kembali ke rumah. Ia meninggalkan semua permata-permatanya dengan menggantungnya di sebuah pohon, dan pergi, tanpa tahu kemana ia akan pergi.

Secara kebetulan ia sampai di tempat para pertapa pengembara wanita (paribbajika) dan ia sendiri menjadi seorang pertapa pengembara wanita. Para paribbajika lalu mengajarinya seribu problem pandangan menyesatkan.

Dengan kepandaiannya ia menguasai apa yang diajarkan mereka dalam waktu singkat. Kemudian gurunya berkata kepadanya untuk pergi berkelana dan jika ia menemukan seseorang yang dapat menjawab semua pertanyaannya, jadilah kamu muridnya.

Kundalakesi berkelana ke seluruh Jambudipa, menantang siapa saja untuk berdebat dengannya. Oleh karena itu ia dikenal sebagai “Jabukaparibbajika”.

Pada suatu hari, ia tiba di Savatthi. Sebelum memasuki kota untuk menerima dana makanan, ia membuat sebuah gundukan pasir dan menancapkan sebatang ranting eugenia di atasnya. Suatu tanda yang biasa ia lakukan untuk mengundang orang lain dan menerima tantangannya.

Sariputta Thera menerima tantangannya.

Kundalakesi menanyakan kepadanya seribu pertanyaan dan Sariputta Thera berhasil menjawab semuanya. Ketika giliran Sariputta Thera bertanya kepadanya, Sariputta Thera hanya bertanya seperti ini: “Apa yang satu itu? (Ekam namakim).”

Kundalakesi lama terdiam tidak dapat menjawab. Kemudian ia berkata kepada Sariputta Thera untuk mengajarinya agar ia dapat menjawab pertanyaannya. Sariputta berkata bahwa ia harus terlebih dahulu menjadi seorang bhikkhuni.

Kundalakesi kemudian menjadi seorang bhikkhuni dengan nama Bhikkhuni Kundalakesi. Dengan tekun ia mempraktekkan apa yang diucapkan oleh Sariputta, dan hanya dalam beberapa hari kemudian, ia menjadi seorang arahat.

Tak lama setelah kejadian tersebut, para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha: “Apakah masuk akal Bhikkhuni Kundalakesi menjadi seorang arahat setelah hanya sedikit mendengar Dhamma?” Mereka juga menambahkan bahwa wanita tersebut telah berkelahi dan memperoleh kemenangan melawan suaminya, seorang pencuri, sebelum ia menjadi paribbajika.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 102 dan 103 berikut ini:

Daripada seribu bait syair yang tak bermanfaat,
adalah lebih baik satu kata Dhamma,
yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya.

Walaupun seseorang dapat menaklukkan ribuan musuh dalam ribuan kali pertempuran,
namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.

Kisah Bahiyadaruciriya

Sekumpulan pedagang pergi melaut dengan sebuah kapal. Badai mengganas dan kapal mereka hancur di tengah laut. Dari semua penumpang hanya satu orang yang hidup. Orang yang selamat dengan memeluk sebuah potongan kayu itu terdampar di pelabuhan Supparaka.

Karena pakaian hilang, ia mengikat sepotang kulit kayu di tubuhnya. Dengan memegang sebuah mangkok, ia duduk di tempat dimana orang-orang dapat melihatnya.

Orang-orang yang lewat memberinya nasi dan bubur. Beberapa orang menganggapnya seorang arahat dan memujanya. Beberapa orang lain membawakannya pakaian tetapi ia menolaknya. Ia takut dengan memakai pakaian akan menyebabkan orang-orang hanya memberi sedikit. Di samping itu, beberapa orang telah mengatakan bahwa ia seorang arahat. Maka dengan pikiran salah, ia menganggap dirinya seorang arahat.

Oleh karena ia adalah seorang yang berpandangan salah dan menggunakan sepotang kulit kayu sebagai pakaiannya, maka ia dikenal dengan nama Bahiyadaruciriya.

Suatu ketika, Mahabrahma yang pernah menjadi temannya dalam kehidupan lampau, melihat bahwa ia telah melakukan kekeliruan. Ia berpikir bahwa menjadi tugasnya untuk mengembalikan Bahiya ke jalan yang benar.

Mahabrahma datang kepadanya pada malam hari. Ia berkata kepadanya: “Bahiya, kamu bukan arahat, dan lebih dari itu kamu belum memiliki kualitas yang dimiliki seorang arahat.”

Bahiya memandang Mahabrahma dengan terkejut. Kemudian ia berkata: “Ya, saya mengakui bahwa saya bukan seorang arahat, seperti yang telah kamu katakan. Sekarang saya menyadari bahwa saya telah melakukan kesalahan besar. Tetapi adakah di dalam kehidupan sekarang ini seorang arahat?”

Mahabrahma kemudian berkata bahwa sekarang ini di Savatthi ada seorang arahat. Buddha Gotama, yang telah mencapai Penerangan Sempurna dengan kemampuan-Nya sendiri.

Bahiya menyadari demikian besar kesalahannya. Ia merasa sangat menderita, dan berlari di sepanjang jalan menuju ke Savatthi. Mahabrahma menolong Bahiya dengan kekuatan batinnya, sehingga jarak sepanjang 120 yojana dapat ditempuh dalam satu malam.

Bahiya bertemu Sang Buddha ketika Beliau sedang menerima dana makanan bersama para bhikkhu. Ia dengan penuh hormat mengikuti-Nya. Kemudian ia memohon kepada Sang Buddha untuk membabarkan Dhamma.

Sang Buddha menjawab bahwa saat menerima dana makanan, bukan waktu yang tepat untuk berkhotbah.

Sekali lagi, Bahiya memohon: “Bhante, seseorang tak akan tahu bahaya yang akan menimpa kehidupanmu dan kehidupanku, sehingga kabarkanlah kepadaku perihal Dhamma.”

Sang Buddha mengetahui bahwa Bahiya telah melakukan perjalanan 120 yojana dalam waktu semalam, dan juga diliputi perasaan gembira yang meluap-luap pada saat bertemu Sang Buddha. Oleh karena itu Sang Buddha tidak segera berbicara Dhamma kepadanya, tetapi menunggu sampai ia tenang dan memungkinkan untuk menerima Dhamma dengan baik.

Bahiya terus-menerus memohon. Sehingga, ketika berdiri di tepi jalan, Sang Buddha berkata kepada Bahiya, “Bahiya, ketika kamu melihat suatu objek, hendaknya sadarlah bahwa hal itu hanya objek yang dilihat; ketika kamu mendengar satu suara, sadarlah bahwa hal itu hanya suara; ketika kamu mencium, atau merasa, atau menyentuh sesuatu, sadarlah bahwa hal itu hanya bau, rasa, sentuhan, dan ketika kamu berpikir tentang sesuatu, sadarlah bahwa hal itu hanya objek pikiran.”

Setelah mendengar khotbah di atas, Bahiya mencapai tingkat kesucian arahat dan memohon izin Sang Buddha untuk menjadi bhikkhu.

Sang Buddha berkata kepadanya untuk membawa jubah, mangkuk, dan kebutuhan bhikkhu lainnya. Dalam perjalanan untuk mendapatkan barang-barang tersebut, ia diseruduk oleh seekor sapi (sebenarnya raksasa yang berwujud sapi) sehingga ia meninggal dunia. Ketika Sang Buddha dan para bhikkhu berjalan keluar setelah makan, mereka menemukan Bahiya telah tergeletak meninggal dunia pada tumpukan sampah.

Atas perintah Sang Buddha, para bhikkhu mengkremasikan tubuh Bahiya dan sisa jasmaninya disimpan dalam sebuah stupa.

Setelah kembali ke Vihara Jetavana, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu bahwa Bahiya telah merealisasi nibbana. Beliau juga berkata kepada mereka berkaitan dengan pencapaian “Pandangan Terang Magga” (Abhiñña) Bahiya adalah yang tercepat dan terbaik.

Para bhikkhu bingung dengan pernyataan yang diucapkan Sang Buddha dan bertanya kepada Beliau mengapa dan kapan Bahiya menjadi seorang arahat.

Sang Buddha menjawab “Bahiya telah mencapai tingkat kesucian arahat pada saat ia mendengarkan penjelasan Dhamma yang diberikan kepadanya ketika kita menerima dana makanan.”

Para bhikkhu heran bagaiman seseorang mencapai arahat setelah mendengarkan hanya sedikit kalimat Dhamma. Kemudian Sang Buddha berkata kepada mereka bahwa banyaknya kata-kata atau panjangnya khotbah tidaklah menjadi masalah jika hal itu bermanfaat bagi seseorang.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 101 berikut:

Daripada seribu bait syair yang tak berguna,
adalah lebih baik sebait syair yang berguna,
yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya.

Kisah Tambadathika

Tambadathika mengabdi kepada raja sebagai penjagal para pencuri selama lima puluh lima tahun, dan ia baru saja pensiun dari pekerjaannya. Suatu hari, setelah mempersiapkan bubur nasi di rumahnya, ia pergi ke sungai untuk mandi. Ia mempersiapkan bubur nasi itu untuk dimakannya setelah kembali dari sungai.

Pada waktu Tambadathika mengambil bubur nasi, Sariputta Thera yang baru saja bangun dari meditasi Jhana Samapatti, berada di muka pintu rumahnya. Pada saat melihat Sariputta Thera, Tambadathika berpikir, “Meskipun dalam hidupku saya telah menghukum mati para pencuri, sekarang saya seharusnya mempersembahkan makanan ini kepada bhikkhu itu.”

Kemudian ia mengundang Sariputta Thera untuk datang ke rumahnya dan dengan hormat mempersembahkan nasi tersebut.

Setelah bersantap, Sariputta Thera mengajarkan Dhamma kepadanya, tapi Tambadathika tidak dapat memperhatikan, sebab ia begitu gelisah mengingat masa lalunya sebagai seorang penjagal. Ketika Sariputta Thera mengetahui hal ini, ia memutuskan untuk menanyakan dengan bijaksana apakah ia membunuh pencuri atas kehendaknya atau diperintahkan untuk melakukan hal itu. Tambadathika menjawab bahwa ia diperintah raja untuk membunuh mereka dan ia tidak berniat untuk membunuh.

Kemudian Sariputta Thera bertanya, “Jika demikian, apakah kamu bersalah atau tidak?”

Tambadathika menyimpulkan bahwa ia tidak bertanggung jawab atas perbuatan jahat tersebut, ia tidak bersalah.

Oleh karena itu ia menjadi tenang dan meminta kepada Sariputta Thera untuk meneruskan penjelasannya. Dengan mendengarkan Dhamma penuh perhatian, ia hampir mencapai tingkat kesucian sotapatti, ia mencapai anulomaññana. Setelah khotbah Dhamma berakhir, Tambadathika menyertai perjalanan Sariputta Thera sampai jarak tertentu, dan kemudian ia pulang kembali ke rumahnya.

Pada perjalanan pulang, seekor sapi (sebenarnya setan yang menyamar sebagai seekor sapi) menyeruduknya sehingga ia meninggal dunia.

Ketika Sang Buddha berada dalam pertemuan bhikkhu pada sore hari, para bhikkhu memberitahu beliau perihal kematian Tambadathika. Ketika ditanyakan di mana Tambadathika dilahirkan kembali, Sang Buddha berkata kepada mereka bahwa meskipun Tambadathika telah melakukan perbuatan jahat sepanjang hidupnya, karena memahami Dhamma setelah mendengarnya dari Sariputta Thera, ia telah mencapai anulomaññana sebelum meninggal dunia. Ia dilahirkan kembali di alam sorga Tusita.

Para bhikkhu sangat heran bagaimana mungkin seseorang yang melakukan perbuatan jahat seperti itu dapat memperoleh pahala demikian besar setelah mendengarkan Dhamma hanya sekali. Kepada mereka, Sang Buddha berkata, “Daripada suatu penjelasan panjang yang tanpa makna, lebih baik satu kata yang mengandung pengertian dapat menghasilkan manfaat yang lebih besar.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 100 berikut:

Daripada seribu kata yang tak berarti,
adalah lebih baik sepatah kata yang bermanfaat,
yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya.

Kisah Seorang Wanita

Seorang bhikkhu setelah menerima sebuah objek meditasi dari Sang Buddha, mempraktekkan meditasi di sebuah taman tua. Seorang wanita yang tidak dikenal datang ke taman dan melihat bhikkhu itu. Ia mencoba untuk menarik perhatiannya dan merayunya. Sang bhikkhu menjadi terkejut. Pada saat yang sama, seluruh tubuhnya diliputi berbagai macam perasaan kepuasan yang menyenangkan.

Sang Buddha melihatnya dari vihara Beliau, dan dengan kemampuan batin luar biasa, Beliau mengirim seberkas sinar kepadanya dan bhikkhu tersebut menerima pesan yang berbunyi: "Anak-Ku, tempat dimana orang mencari kesenangan duniawi adalah bukan tempat untuk seorang bhikkhu. Para bhikkhu seharusnya senang tinggal di hutan dimana orang-orang duniawi tidak menemukan kesenangan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 99 berikut:

Hutan bukan tempat yang menyenangkan bagi orang duniawi,
namun di sanalah orang-orang yang telah bebas dari nafsu bergembira,
karena mereka tidak lagi mencari kesenangan indria.

Kisah Samanera Revata

Revata adalah saudara laki-laki termuda dari murid utama Sariputta. Ia satu-satunya saudara Sariputta yang tidak meninggalkan rumah tangga untuk menempuh kehidupan tanpa rumah. Ayahnya sangat menginginkan agar ia menikah. Revata baru berumur tujuh tahun ketika ayahnya mempersiapkan sebuah pernikahan baginya dengan seorang gadis kecil.

Pada jamuan pernikahan, ia bertemu dengan wanita tua yang berumur 120 tahun. Melihat wanita tua itu, Revata kecil merenung. Ia menyadari bahwa segala sesuatu merupakan subjek dari ketuaan dan kelapukan, sehingga ia berlari meninggalkan rumah dan pergi ke vihara. Di sana terdapat tiga puluh bhikkhu. Sebelumnya, bhikkhu-bhikkhu itu telah memohon kepada Sariputta Thera agar menjadikan saudara beliau menjadi seorang samanera, jika ia datang kepada mereka.

Kemudian Revata menjadi seorang samanera dan Sariputta Thera diberitahu hal itu oleh para bhikkhu.

Samanera Revata menerima sebuah objek meditasi dari para bhikkhu dan pergi ke hutan akasia, tiga puluh yojana jauhnya dari vihara. Pada akhir masa vassa ia mencapai tingkat kesucian arahat.

Suatu ketika, Sariputta Thera memohon izin kepada Sang Buddha untuk mengunjungi saudaranya, tetapi Sang Buddha menjawab bahwa Beliau sendiri juga akan pergi ke sana.Jadi, Sang Buddha disertai Saripitta Thera, Sivali Thera, dan lima ratus bhikkhu pergi mengunjungi Samanera Revata.

Perjalanan itu sangat jauh, jalannya buruk dan daerah tersebut tidak ditinggali manusia, tetapi para dewa memenuhi setiap kebutuhan Sang Buddha dan para bhikkhu selama di perjalanan. Setiap satu yojana, sebuah vihara dan makanan disediakan, dan perjalanan mereka rata-rata satu yojana per hari.

Revata mengetahui perihal kunjungan Sang Buddha, ia membuat persiapan untuk menyambutnya. Dengan kekuatan batin luar biasanya ia menciptakan vihara khusus untuk Sang Buddha dan lima ratus vihara untuk bhikkhu lainnya, dan membuat mereka merasa nyaman ketika mereka tinggal disana.

Pada perjalanan pulang, mereka berjalan dengan waktu yang sama seperti sebelumnya, dan sampai di Vihara Pubbarama di sebelah timur kota Savatthi pada akhir bulan. dari sana mereka pergi ke rumah Visakha, yang mempersembahkan makanan kepada mereka. setelah makan, Visakha bertanya kepada Sang Buddha: apakah tempat Revata di hutan Akasia menyenangkan?

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 98 berikut:

Apakah di desa atau di dalam hutan,
di tempat yang rendah atau di atas bukit,
di mana pun Para Suci menetap,
maka tempat itu sungguh menyenangkan.

Kisah Sariputta Thera

Tiga puluh bhikkhu dari sebuah desa datang ke Vihara Jetavana untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Sang Buddha mengetahui bahwa telah tiba waktunya bagi bhikkhu-bhikkhu tersebut untuk mencapai tingkat kesucian arahat.

Beliau mengundang Sariputta dan di hadapan bhikkhu-bhikkhu itu, Beliau bertanya, “Anakku, Sariputta, apakah kamu dapat menerima kenyataan bahwa dengan cara bermeditasi, seseorang dapat merealisasi nibbana?”

Sariputta menjawab, “Bhante, berkaitan dengan perealisasian nibbana dengan meditasi, saya menerima hal itu bukan karena saya percaya kepada-Mu. Pertanyaan itu hanya bagi seseorang yang belum berhasil merealisasikan nibbana, yang menerima kenyataan dari orang lain.”

Jawaban Sariputta tidak dapat dimengerti secara tepat oleh para bhikkhu. Mereka berpikir: “Sariputta belum melenyapkan pandangan salah, sampai saat ini, ia belum memiliki keyakinan terhadap Sang Buddha.”

Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepada mereka makna sebenarnya dari jawaban Sariputta.

“Para bhikkhu, jawaban Sariputa dapat disederhanakan menjadi demikian: Ia menerima bahwa nibbana dapat dicapai dengan meditasi, tetapi ia menerima hal itu berdasarkan hasil pengalamannya sendiri, dan bukan karena saya telah mengatakan hal itu atau orang lain mengatakan hal itu. Sariputta yakin terhadap-Ku. Ia juga yakin terhadap akibat-akibat dari perbuatan baik dan jahat.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 97 berikut:

Orang yang telah bebas dari ketahyulan,
yang telah mengerti keadaan tak tercipta (nibbana),
yang telah memutuskan semua ikatan (tumimbal lahir)
yang telah mengakhiri kesempatan (baik dan jahat),
yang telah menyingkirkan semua nafsu keinginan,
maka sesungguhnya ia adalah orang yang paling mulia.

Kisah Seorang Samanera dari Kosambi

Suatu ketika, seorang anak berumur tujuh tahun menjadi samanera atas permintaan ayahnya. Sebelum rambut kepalanya dicukur, anak itu diberi sebuah objek meditasi. ketika rambut kepala anak itu sedang dicukur, ia memusatkan pikirannya dengan teguh pada objek meditasi. Sebagai hasil dari meditasinya, dan juga berkat kamma baiknya di waktu lampau, akhirnya ia mencapai tingkat kesucian arahat secepat orang selesai mencukur rambut kepalanya.

Beberapa waktu kemudian, Tissa Thera, disertai samanera tersebut, pergi ke Savatthi untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Di tengah perjalanan mereka bermalam di sebuah vihara desa. Tissa thera tidur, tetapi samanera muda duduk sepanjang malam di samping kasur Tissa thera. Pada waktu fajar menyingsing, Tissa Thera berpikir bahwa sudah saatnya membangunkan samanera muda. Ia membangunkan samanera dengan kipas daun palemnya, tetapi secara tidak sengaja mata samanera terpukul oleh tangkai kipas dan matanya rusak.

Samanera menutup matanya dengan satu tangan dan pergi melaksanakan tugasnya mempersiapkan air pencuci muka dan mulut Tissa Thera, menyapu lantai vihara dan lain-lain. Ketika samanera muda mempersembahkan air dengan satu tangan kepada Tissa Thera, Tissa Thera mencelanya dan berkata bahwa ia seharusnya mempersembahkan dengan dua tangan.

Kemudian, setelah Tissa Thera mengetahui bagaimana samanera itu rusak matanya, seketika itu ia menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan terhadap seorang manusia yang sungguh-sungguh mulia. Merasa sangat menyesal dan merasa dirinya rendah, ia memohon maaf kepada samanera.

Tetapi samanera berkata bahwa itu bukan kesalahan Tissa Thera, juga bukan kesalahannya sendiri, tapi merupakan buah/akibat perbuatan (karma) lampau, sehingga Tissa Thera tidak lagi terlalu sedih. Tetapi Tissa Thera tidak dapat mengatasi kekecewaan atas kesalahan yang tak dikehendakinya.

Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Savatthi dan sampai di Vihara Jetavana dimana Sang Buddha menetap. Tissa Thera berkata kepada Sang Buddha bahwa samanera muda yang datang bersamanya adalah seorang yang paling mulia yang pernah ia temui, dan dikaitkan dengan apa yang terjadi dalam perjalanan mereka.

Sang Buddha lalu menjawab: “Anakku, seorang arahat tidak akan marah dengan siapapun. ia sudah mengendalikan indrianya dan memiliki ketenangan yang sempurna.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 96 berikut ini:

Orang suci yang memiliki pengetahuan sejati,
yang telah terbebas, damai dan seimbang batinnya,
maka ucapan, perbuatan serta pikirannya senantiasa tenang.

Kisah Sariputta Thera

Pada suatu akhir masa vassa, Sariputta Thera berangkat untuk suatu perjalanan bersama dengan beberapa pengikutnya. Seorang bhikkhu muda pengikutnya, yang memiliki dendam terhadap Sariputta Thera, mendekat kepada Sang Buddha dan menfitnah dengan mengatakan bahwa Sariputta Thera telah mencaci dan memukulnya.

Sang Buddha memanggil Sariputta Thera dan menanyakan: apakah hal itu benar?

Sariputta menjawab, "Bhante, bagaimana mungkin seorang bhikkhu, yang dengan tenang menjaga pikirannya, berangkat dalam suatu perjalanan tanpa kesalahan, telah melakukan kejahatan terhadap bhikkhu pengikutnya? Saya seperti tanah yang tidak merasa marah ketika sampah dan kotoran teronggok di atasnya. Saya juga seperti keset, pengemis, kerbau jantan dengan tanduk yang patah, saya juga merasa jijik dengan kekotoran tubuh dan tidak lagi terikat dengan itu."

Ketika Sariputta Thera berbicara, bhikkhu muda itu merasa sangat tertekan dan menderita. Akhirnya ia mengaku bahwa ia berbohong perihal Sariputta. Kemudian Sang Buddha menyarankan kepada Sariputta Thera untuk menerima permohonan maaf bhikkhu muda itu. Jika tidak, akibat yang berat akan menimpa diri bhikkhu muda itu. Bhikkhu muda mengakui bahwa ia bersalah dan dengan hormat meminta maaf. Sariputta thera memaafkan bhikkhu muda itu dan beliau juga meminta maaf apabila beliau berbuat salah.

Semua yang hadir memuji Sariputta Thera, dan Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, seorang arahat seperti Sariputta tidak memiliki kemarahan atau keinginan jahat. Seperti tanah dan tugu kota, ia sabar, toleran, teguh, seperti danau yang tak berlumpur, ia tenang dan bersih."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 95 berikut ini:

Bagaikan tanah, demikian pula orang suci.
Tidak pernah marah,
teguh pikirannya bagaikan tugu kota (indakhila),
bersih tingkah lakunya bagaikan kolam tak berlumpur.
Bagi orang suci seperti ini tak ada lagi siklus kehidupan.

Kisah Mahakaccayana Thera

Pada saat bulan purnama, yang juga merupakan akhir masa vassa, Sakka bersama sejumlah besar dewa datang untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, yang pada saat itu tinggal di Pubbarama, sebuah vihara yang dibangun oleh Visakha. Waktu itu Sang Buddha disertai oleh murid-murid utama dan semua bhikkhu senior.

Mahakaccayana Thera yang bervassa di Avanti, belum tiba dan tempat duduk untuk beliau masih kosong. Sakka memberi hormat kepada Sang Buddha dengan bunga, dupa, dan wangi-wangian. Pada saat Sakka melihat tempat duduk yang masih kosong, ia mengumumkan agar Mahakaccayana Thera dapat datang segera, sehingga ia dapat menyembah kepadanya. Seketika Mahakaccayana Thera datang, Sakka sangat senang dan dengan tidak sabar mempersembahkan bunga, dupa, dan wangi-wangian.

Para bhikkhu terpesona oleh Sakka yang menunjukkan kesetiaannya kepada Mahakaccayana, tetapi beberapa bhikkhu berpikir bahwa Sakka hanya menyukai Mahakaccayana.

Kepada mereka sang Buddha berkata “Seseorang yang dapat mengendalikan indrianya dicintai oleh para dewa dan manusia.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 94 berikut ini:

Ia yang telah menaklukkan dirinya,
bagaikan seorang kusir mengendalikan kudanya,
yang telah bebas dari kesombongan dan kekotoran batin,
maka para dewa pun akan mengasihi orang suci seperti ini.

Kisah Anuruddha Thera

Suatu hari Anuruddha Thera mencari beberapa kain bekas di dalam timbunan sampah untuk dibuat jubah, sebab jubah lamanya telah kotor dan koyak. Jalini, istrinya pada kehidupan yang lampau, dan sekarang berada di alam dewa melihatnya. Mengetahui bahwa sang thera sedang mencari beberapa kain bekas, ia mengambil tiga lembar kain dari alam dewa dan menaruhnya ke dalam timbunan sampah, serta membuatnya terlihat. Anuruddha Thera menemukan kain tersebut dan membawanya ke vihara.

Ketika beliau sedang membuat jubah, Sang Buddha datang beserta murid-murid utama dan beberapa murid senior Beliau. Mereka menolong menjahit jubah.

Ketika itu, Jalini, dalam ujud gadis muda datang ke desa dan memperhatikan kedatangan Sang Buddha beserta murid Beliau dan juga bagaimana mereka menolong Anuruddha Thera. Ia menganjurkan penduduk desa untuk mengirimkan makanan yang lezat ke vihara dan sebagai akibatnya terjadi kelebihan makanan. Bhikkhu yang lain melihat terlalu banyak makanan tersisa, mencela Anuruddha Thera.

“Anuruddha Thera seharusnya berkata kepada keluarga dan murid-muridnya agar mengirim makanan secukupnya, mungkin ia ingin menunjukkan bahwa ia mempunyai banyak pengikut.”

Kepada para bhikkhu itu, Sang Buddha berkata, “Bhikkhu janganlah berpikir: anak-Ku telah berkata kepada keluarga dan murid-muridnya untuk mengirimkan bubur nasi dan makanan lainnya, seorang arahat tidak membicarakan perihal makanan dan pakaian. Jumlah makanan berlebihan yang dikirimkan ke vihara pagi hari ini berasal dari kemauan makhluk alam lain dan bukan dari manusia.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 93 berikut ini:

Ia yang telah memusnahkan semua kekotoran batin,
yang tidak lagi terikat pada makanan,
yang telah menyadari Kebebasan Mutlak,
maka jejaknya tidak dapat dilacak,
bagaikan burung-burung di angkasa.

Kisah Belatthasisa Thera

Belatthasisa Thera, setelah pergi berpindapatta di suatu desa, berhenti di tepi jalan dan memakan makanannya. Setelah makan, ia meneruskan berpindapatta untuk memperoleh dana makanan lagi. Ketika telah merasa cukup, ia kembali ke vihara, mengeringkan nasi dan menyimpannya. Jadi ia tidak perlu berpindapatta setiap hari, sehingga ia dapat bermeditasi Jhana selama dua atau tiga hari. Begitu selesai meditasi, ia memakan nasi kering yang telah disimpannya, setelah merendamnya terlebih dahulu dalam air, Bhikkhu-bhikkhu lain berpikiran buruk terhadap kelakuan thera itu. Mereka melaporkan hal tersebut kepada Sang Buddha.

Sang Buddha berpikir, jika hal itu ditiru oleh bhikkhu-bhikkhu lainnya, ada kemungkinan menjadi disalahgunakan. Oleh karena itu, Beliau melarang para bhikkhu untuk menyimpan makanan. Beliau juga menganjurkan para bhikkhu agar berusaha mempertahankan kesederhanaan dan kemurnian hidupnya dengan tidak memiliki barang-barang selain keperluan bhikkhu.

Sedangkan untuk Belatthasisa, ia menyimpan nasi sebelum peraturan ditetapkan, lagi pula ia tidak serakah terhadap makanan, tetapi hanya menghemat waktu untuk keperluan bermeditasi. Sang Buddha menetapkan bahwa ia tidak bersalah dan tidak tercela.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 92 berikut ini:

Mereka yang tidak lagi mengumpulkan harta duniawi,
yang sederhana dalam makanan,
yang telah mencapai “Kebebasan Mutlak”,
maka jejak mereka tidak dapat dilacak,
bagaikan burung-burung di angkasa.

Kisah Mahakassapa Thera

Pada suatu saat, Sang Buddha menjalani masa vassa di Rajagaha, bersama sejumlah bhikkhu. Sekitar dua minggu sebelum akhir masa vassa, Sang Buddha memberitahu para bhikkhu bahwa tidak lama lagi ia akan meninggalkan Rajagaha dan mengatakan kepada mereka untuk mempersiapkan diri untuk keberangkatan tersebut.

Sebagian bhikkhu menjahit dan mewarnai jubah baru mereka dan sebagian lagi mencuci jubah lama. Ketika beberapa bhikkhu melihat Mahakassapa mencuci jubahnya, mereka berpikir, “Terdapat banyak umat awam di dalam maupun di luar kota Rajagaha yang mencintai dan menghormati Mahakassapa Thera dan secara terus-menerus memenuhi semua kebutuhannya. Apakah mungkin Mahakassapa Thera meninggalkan umat awam di Rajagaha, dan mengikuti Sang Buddha pergi?”

Pada akhir hari kelima belas, pada malam sebelum keberangkatan, Sang Buddha mengatakan bahwa di sini akan banyak upacara seperti upacara persembahan dana makanan, pentahbisan samanera, pembakaran jenazah, dan lain sebagainya. Maka tidaklah tepat jika semua bhikkhu meninggalkan Rajagaha. Jadi Beliau memutuskan sejumlah bhikkhu tetap tinggal di Vihara Veluvana dan orang yang paling cocok adalah Mahakassapa Thera. Oleh karena itu, Mahakassapa Thera dan beberapa bhikkhu muda tetap tinggal di Rajagaha.

Kemudian beberapa bhikkhu lainnya berkata, “Mahakassapa tidak menyertai Sang Buddha, seperti yang kita perkirakan!”

Sang Buddha yang mendengar ucapan mereka, berkata: “Para bhikkhu! Apakah kamu bermaksud mengatakan bahwa Mahakassapa Thera melekat kepada murid umat awam di Rajagaha dan pada semua hal yang mereka persembahkan kepadanya? Kamu semua keliru. Anak-Ku Mahakassapa tinggal disini karena perintah-Ku, ia tidak terikat kepada segala hal yang ada disini.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 91 berikut ini:

Orang yang telah telah sadar dan meninggalkan kehidupan rumah tangga,
tidak lagi terikat pada tempat kediaman.
Bagaikan kawanan angsa yang meninggalkan kolam demi kolam,
demikianlah mereka meninggalkan tempat kediaman demi tempat kediaman.